Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Friday, June 22, 2012

Monyet Pertama yang Bisa Kembali ke Bumi Hidup

Tanggal 28 Mei 1959 adalah hari yang bersejarah bagi penerbangan ruang angkasa. Karena untuk pertama kalinya misi dengan menerbangkan makhluk hidup bisa kembali ke bumi dan makhluk itu masih hidup.
 
Makhluk hidup yang berada di misi tersebut adalah dua ekor monyet: Able - monyet jenis rhesus dan Baker - jenis squirrel. Keduanya diterbangkan dalam suatu misi menggunakan roket (misil) bernama Jupiter AM-18. Kedua monyet itu ditempatkan di ujung misil berbentuk cone.

Misil diterbangkan dari Cape Canaveral, Florida, pada 28 Mei 1959. Penerbangan misil itu mencapai kecepatan tertingginya 16.090 km/jam.Sedangkan pencapaiannya meliputi jarak sejauh 2.413 km di atas Atlantik Selatan. Perjalanan mereka sejak peluncuran berlangsung selama 16 menit.

Setelah cone jatuh di laut, tim menemukan Able maupun Baker masih hidup. Namun Able kemudian mati empat hari kemudian setelah melalui operasi karena terjadi infeksi akibat eletroda yang ditanam di tubuhnya. Sedangkan Baker bisa hidup beberapa tahun kemudian dan mati pada 29 November 1984.

Keberhasilan itu menjadi tonggak penting untuk melakukan misi lebih besar dengan menerbangkan manusia ke ruang angkasa dan bisa kembali ke bumi dengan sehat. Dan hal itu sudah dibuktikan karena manusia kemudian bisa terbang ke ruang angkasa bahkan bisa mendarat di bulan dan kembali selamat ke bumi.

3 Kisah Nyata yang Inspiratif

Inilah 3 kisah hidup tokoh sukses dunia yang bisa menjadi inspirasi bagi kita semua.

 # Steve Jobs, Visioner Apple
Dunia dikejutkan ketika ahli teknologi Steve Jobs, mantan CEO Apple, meninggal pada tahun lalu. Tidaklah sulit untuk memahami kenapa kematiannya itu membuat hampir kita semua merasa kehilangan. Steve bisa dikatakan telah berjasa besar bagi dunia teknologi. Ia benar-benar mengubah peta industri komputer, ponsel, dan alat-alat elektronik. Beberapa penampilan publiknya menunjukkan betapa besarnya passion yang dimiliki Steve terhadap produk-produknya. Rasa antusiasmenya itu bersifat menular.

Steve adalah contoh nyata inspiratif yang membuktikan bahwa sebuah tekad seseorang untuk mengejar mimpi-mimpi itu berdampak besar. Awalnya ia dipecat oleh Apple pada tahun '80-an lalu kembali lagi ke Apple dan merevolusi perusahaan itu dan industri PC.

Dalam pidatonya yang terkenal pada acara wisuda di Stanford, Steve berkata, "Mengingat saya akan meninggal nantinya menjadi alat terpenting yang membantu saya membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup. Karena hampir segala hal-semua harapan, kebanggaan, kekhawatiran akan kegagalan dan perasaan malu-akan hilang begitu kematian datang menghampiri, dengan menyisakan hanya hal yang benar-benar penting. Mengingat bahwa kita akan mati suatu hari nanti adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari dari perangkap pemikiran bahwa kita telah gagal. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati."

# Howard Schultz, CEO Starbucks
Howard Schultz, CEO dan Pemimpin Starbucks, menjalani masa kecilnya di rumah susun tapi berhasil keluar dari keadaannya itu melalui olahraga. Ia mendapat beasiswa atletik dan menjadi orang pertama dalam keluarganya yang mencicipi bangku kuliah.

Dalam perjalanan kariernya, Howard Schultz bergabung ke Starbucks pada 1982 sebagai kepala marketing dan operasi-operasi ritel. Ia lalu keluar dan mulai menjalankan kedai kopinya sendiri setelah terinspirasi budaya minum kopi di Italia. Tapi ia segera membeli Starbucks dari pemiliknya terdahulu pada 1987. Karena pernah merasakan hidup serbakekurangan, Howard menjadi seorang CEO yang memperhatikan kesejahteraan rakyat kecil. Starbucks memberikan jaminan kesehatan yang sangat besar kepada para karyawannya, dan bahkan pada karyawan paruh waktunya. Malah, perusahaan itu mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk asuransi kesehatan dibanding untuk bahan material penjualan mereka, yaitu kopi.

# Michael Jordan, Superstar Bola Basket
Dikenal sebagai pemain basket terbaik sepanjang masa, Michael Jordan tidak begitu saja mendapatkan keberhasilannya itu. Ia bahkan harus berjuang keras meraihnya. Meskipun kemampuannya tak diragukan lagi, tinggi badannya tidak memenuhi syarat untuk menjadi salah satu anggota tim basket kampusnya. Mahasiswa lain yang setingkat dengannya, Leroy Smith, malah berhasil diterima dalam tim kampus.

Michael merasa marah sekaligus dipermalukan, tapi energi emosionalnya itu ia curahkan dan gunakan untuk menjadikan dirinya seorang pemain yang jauh lebih baik. "Setiap kali berlatih dan merasa lelah juga mulai timbul niatan untuk menyerah, saya akan menutup mata dan membayangkan daftar nama pemain di kamar ganti tanpa nama saya tertera di sana," kata Jordan. "Dan biasanya hal itu akan membuat saya bangkit kembali."

Michael akhirnya berhasil menjadi anggota tim kampus dua tahun kemudian, memperoleh beasiswa ke University of North Carolina, dan lalu direkrut Chicago Bulls. Dan sisa perjalanan hidupnya adalah sejarah, demikian penuturan Michael.

***
Ketiga tokoh di atas memperlihatkan pada kita bahwa penderitaan atau penolakan dalam hidup itu bukanlah hal yang luar biasa. Yang menjadi luar biasa apabila kita tak pernah berhenti untuk melangkah meski didera segala rintangan dan halangan, apabila kita tetap melangkah tegap menghadapi semua hadangan itu. Karena seperti yang digambarkan pada kisah hidup tokoh-tokoh di atas, di balik setiap kemalangan dan penderitaan pasti akan ada titik terang, pasti akan ada titik akhir yang lebih baik. Itu semua bisa didapat jika kita pantang menyerah.

Emas dan Permata

Alkisah, di sebuah negeri, hiduplah seorang guru yang terkenal bijaksana. Suatu hari, ada seorang pemuda mendatanginya dan bertanya, "Saya tidak paham kenapa orang besar seperti Guru berpakaian sangat sederhana. Bukankah di zaman sekarang ini berpakaian bagus itu penting, tidak hanya untuk penampilan tapi juga untuk alasan lainnya?"

Sang guru hanya tersenyum dan mencopot cincinnya dari salah satu jarinya, lalu berkata, "Anak muda, saya akan jawab pertanyaanmu, tapi lakukan dulu satu hal ini: ambil cincin ini dan pergilah ke pasar di seberang jalan ini, bisakah kamu menjualnya seharga sekeping emas?"

Setelah melihat cincin sang guru yang kotor, seketika anak muda itu menjadi ragu. "Sekeping emas? Wah... saya tak yakin cincin seperti ini bisa dijual dengan harga tinggi."
"Coba saja dulu, anak muda. Siapa tahu, bisa."

Pemuda itu pun segera pergi ke pasar. Ia menawarkan cincin itu ke penjual kain, penjual sayuran, tukang daging, penjual ikan, dan pedagang lainnya. Ternyata memang tidak ada yang mau membayarnya seharga sekeping emas. Akhirnya, si pemuda datang kembali ke kediaman sang guru dan memberi tahu dengan suara lemah, "Tidak ada yang berani menawarnya lebih dari sekeping perak."


Dengan senyuman bijak di wajahnya, sang guru berkata, "Sekarang pergilah ke Toko Emas di belakang jalan ini. Tunjukkan cincin ini pada pemiliknya atau penjual emas. Jangan sebut harga tawaranmu! Pokoknya, dengarkan saja harga yang akan mereka tawarkan untuk cincin ini."

Maka, pergilah si pemuda ke toko yang disebutkan sang guru dan kembali dengan ekspresi yang berbeda. Ia lalu berkata dengan penuh semangat, "Guru, pedagang-pedagang di pasar sama sekali tidak tahu harga cincin ini. Si penjual emas menawar cincin ini seribu keping emas, seribu kali tawaran pedagang di pasar!
Sang guru hanya tersenyum dan berkata pelan, "Itulah jawaban dari pertanyaanmu, anak muda. Seseorang tidak bisa dinilai hanya dari pakaiannya saja. Pedagang di pasar memberimu nilai sekecil itu, tapi berbeda dengan penjual emas tadi."

Netter yang LuarBiasa, 
 
"Emas" dan "permata" di dalam diri seseorang hanya bisa dilihat dan dinilai jika kita dapat melihatnya jauh ke dalam jiwa. Diperlukan hati untuk melihatnya, dan dibutuhkan proses. Kita tidak bisa melihatnya dari ucapan atau perilaku yang hanya kita lihat sesekali. Sering kali apa yang kita anggap emas ternyata hanya sebongkah kuningan, tapi apa yang kita kira kuningan ternyata sebongkah emas.

Maka, kita perlu hati-hati melihat seseorang. Jangan mudah menilai dari apa yang tampak karena kita bisa terperangkap oleh sudut pandang kita yang sempit, yang tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang kita nilai itu punya kelebihan.

 
Design by Kuswandi13 | Alamat Ciamis | Email : engkus.kuswandi13@gmail.com